Baru beberapa hari yg lalu, saya dan temen kuliah, Deza namanya makan bakso di kantin kampus. She always talked about her boyfriend even her ex. Dan saat itu tumben banget dia nanya, “Kamu sama Edo gimana Tika? Baik-baik aja? Kamu anteng banget gitu..” Dan jelas saya jawab semua baik-baik aja. Sekalipun ada apa-apa, sekarang saya rasanya lebih suka menyimpan sendiri. Satu-satunya cara saya berbagi ya menulis disini. Deza saat itu bener-bener kepengen tau Edo dan kehidupannya. Deza sampe nanya Edo tinggalnya di rumah siapa, Edo dapet uang bulanan dari mana, dan hal private lainnya. Jujur, sekalipun (saat itu) saya pacarnya, saya ga pernah tau tentang Edo sedetail itu. Dia ga pernah mau berbagi ke saya. Entah kenapa Deza tiba-tiba nanya kaya gitu saya juga ga ngerti dan ga mau tau lagi. Because now, everything is over :)
It starts from another same mistakes, behind a reason why I can’t stop crying for same shit reason. Lagi-lagi saya merasa diabaikan. Lagi-lagi saya merasa disepelekan entah untuk yg keberapa kalinya. Udah pernah saya post sebelumnya betapa saya kecewa karena selalu aja ada alasan untuk menolak ajakan pergi dari saya. Saat itu saya menyerah. Hingga akhirnya dia datang lagi dengan janji yg baru. “Kalau sekali lagi aku gituin kamu, kamu boleh ngapain aja, terserah kamu. Tapi aku janji ak ga bakal gituin kamu lagi.” But reality says no. Berkali-kali saya ajak dia ketemu, berkali-kali saya ajak dia jalan, berkali-kali saya minta temenin tapi dia selalu ga bisa. Dan dia punya stok alasan yg banyak yg saya juga ga tau pasti bener atau engga :) Being recejection is hurt, kan? Apalagi berkali-kali dan terus-menerus. Setiap saya marah dan kecewa, dia ga sekalipun nunjukkin rasa bersalahnya. He just gave me a :( or :’(. It wouldn’t be enough, fyi. If spended time with me is precious moment for him, kenapa tiap dia ga bisa mengiyakan ajakan saya dia ga menebusnya dengan hal lain? Semisal, antar jemput kuliah. Ah right, saya jelas ga bisa kaya temen-temen cewek yg lain yg dimanjain pacarnya dengan selalu diantar jemput. Here…… Seingat saya, saya ga pernah dia menuntut dia hal-hal yg susah untuk dilakukan. Saya ga kaya cewek-cewek lain yg kadar gengsi dan soknya kelewat tinggi sampe-sampe kalau kemana-mana sama pacarnya harus pake mobil. Saya ga kaya cewek-cewek lain yg cuman mau dikasih kado mahal dari pacarnya. Saya ga kaya cewek-cewek yg lain yg mewajibkan pacarnya nemenin dia kemana-mana. Cuman tiga hal yg (dulu) saya minta. Saya kepengen sesekali dia ngotot antar jemput saya kuliah. Saya kepengen sesekali, dia berlaku manis kepada saya, bersikap romantis dengan sederhana. Dan saya kepengen jadi prioritas dia lagi. He’s on the top of my priority, but the bad thing is I’m not on his list :)
And now I’m single. But just because I’m single doesn’t I’m available. I’m not gonna looking for someone new. I’d never be sure this much, but It’ll hard to move on. Like, really. He’s the one I wanna spend my time with but he makes me turn away. Just like this. Everything ends. This did too. Another scar :) If only I could talk about our memory, we were lovers who love to talked and laughed. We were lovers who made promises nd talked about remember-when and what-ifs. He’s my love song. Dialah orang yg selalu saya bangga-banggakan. And he’s the one I wanna lay my head on. He’s the one I want to kiss. He’s the one I wanna hug tightly. He’s the one I wanna share my life with.
Ini jelas salah satu keputusan terberat dalam hidup saya dan jelas akan jadi penyesalan yg berkepanjangan. Tapi, perlakuan dia yg membuat saya menyerah. Well, I’m not a good girlfriend, though. Tapi selama ini saya sudah berusaha sebaik mungkin buat dia. Dan saya memang egois menginginkan hal yg sama darinya. Saya menyerah karena saya merasa dia berubah. Dia yg dulu ga akan membiarkan saya sedikitpun merasa terluka. Dia yg dulu selalu berusaha membahagiakan saya dengan hal sekecil dan sesederhana apapun itu. Dia bisa meluangkan waktu untuk saya, itu hal yg membahagiakan untuk saya. Iya, sesederhana itu. Tapi hal sesederhana itupun susah ia lakukan untuk saya. Kelak, ketika dia sudah menemukan pasangan lagi, saya jelas ga bakal rela. Tapi disini saya belajar ikhlas, inilah keputusan saya. Saya memang bukan yg terbaik untuknya. I was a bad life partner for him, I knew it. I love the idea of us being together and being each other, but I hate the reality though. Mungkin ada baiknya Allah baru mempertemukan kami lagi disaat kami sudah dewasa. Disaat kami sudah lulus dengan gelar pendidikan yg kami tempuh saat ini. Mungkin di saat itu, kami jadi bisa lebih menghargai satu sama lain, sekalipun mungkin dia sudah bersama pasangannya. Imagine that, I feels sick. Like what I’ve told you, sekarang saya lagi belajar menjalani kehidupan yg baru. Menghadapi kenyataan status saya yg sekarang. Something that doesn’t make just start to make everything sense. Even heart wants what the mind think doesn’t.
You’re mean so much for me. You know it’s not about I don’t love you anymore. You know that I always do. I know I’ll see you again wether far or soon, but I need you to know that I’ll always care about you even from far, nd I’ll always miss you, E. Please take care of yourself. If someday you’re find someone who much more better than me, if someday you’re find someone for falling into, just don’t look back :) I’d be happy for you. I will. Don’t playing around too much. Inget cita-cita kamu. Jangan males-malesan kuliah dong :D Maaf untuk rencana kita yg gak terwujud. Aku tahu pasti ada rencana lain dari-Nya untuk kita J Almost 2 years with you is super duper extra special moments in my life. Thank you, E :)