Senja kali ini berbeda. Semburat jingga matahari memang masih indah seperti biasa. Dan secangkir kopi hitam pekat pun masih menemani gadis yang berusia 21 tahun ini. Keadaan sekitarnya pun tetap sepi seperti biasa hanya sesekali kendaraan mobil atau motor berlalu-lalang. Ya, dia memang menikmati senja di teras rumahnya seperti yang biasa ia lakukan. Rumah itu sepi, kedua orang-tua dan kakak laki-lakinya sedang keluar. Hal inilah yang menjadi surga baginya ketika ia bisa menikmati senja sendiri di teras rumahnya cukup ditemani dengan secangkir kopi hitam kesukaannya dan lagu-lagu yang mengalun dari iPodnya. Tapi tetap ia merasa ada yang kurang. Apa itu ? Bukankah komposisi apa saja yang menemaninya menikmati senja itu tetap sama ?
Malam beranjak tiba. Sudah pukul 21.30. Selepas sholat isya gadis yang bernama Naya ini berlalu ke kamarnya tanpa mengindahkan panggilan ibunya mengajaknya makan malam. Ingin mengerjakan tugas kuliah, katanya. Padahal Naya berbohong. Tugas itu sudah ia kerjakan dan besok akan diserahkan kepada Dosennya. Naya mengalami moodswing dan kali ini giliran mood yang buruk yang menghinggapinya. Di kamar, ia sandarkan tubuh mungilnya ke jendela kamarnya. Sepi. Hanya kerlip lampu dari lampu penerang jalan dan lampu dari rumah tetangganya. Sesekali dilihatnya layar ponselnya. Hening. Tak ada SMS maupun telpon dari orang yang sangat dirindukannya saat ini. Alpha, lelaki yang telah membuat hati dan pikiran Naya sedikit kacau belakangan ini. She need to be needed. She need to be missed. Naya bosan jika ia yang harus mencari dan menghubungi Alpha duluan. Belakangan, Alpha memang sedikit sibuk sendiri dengan urusannya. Alpha memang tengah memasuki dunia baru. Begitu ia menyelasaikan pendidikan S1-nya, kini Alpha mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta. Alpha saat ini bukan sedang sibuk dengan pekerjaan karena jika memang begitu Naya pasti akan sangat mengerti. Alpha belakangan lebih sering sibuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya entah itu teman lama atau teman barunya. Dan seperti biasa, Naya hanya diam. Naya lelah jika harus beradu argumen dengan Alpha seperti yang sudah sering mereka lakukan selama 4 tahun berpacaran. Dia mencoba menunggu Alpha menghubunginya sembari berbaring menerawang menatap langit kamarnya. Tanpa ia sadari, ia pun terlelap...........
Hujan subuh ini membangunkan Naya dari tidurnya. Diambilnya ponsel yang ia letakkan di nakas di samping tempat tidurnya. Ada satu SMS, semoga Alpha, gumam Naya sembari tersenyum kecil. Dugaan Naya benar. "Sayang, kamu pasti sudah tidur sekarang. Maaf ya semalam aku makan malam sama temen2 kantor. Mau nelfon kamu sebelumnya pulsaku habis ini baru ada pulsa hehehe. Have a nice dreams, Naya :)". Naya tersenyum kecut membacanya. Dengan cepat, tangan Naya mengetik SMS balasan kepada Alpha. "No prob :) Baik2 di kantor ya, Sayang". Naya pun beranjak bersiap sholat subuh dan melanjutkan tidurnya. Bukan fisik Naya yang lelah, tetapi raganya.
Hujan seharian ini menguntungkan bagi Naya. Pada mata kuliah hari itu, kebetulan Dosennya tidak hadir. Jadilah Naya menghabiskan waktunya di rumah. Sendirian. Di luar dugaan Alpha menelpon. Seketika Naya pun bersemangat. Alpha memang seperti hormon endorfin bagi Naya.
"Hallo.." sapa Naya.
"Sayang dimana ? Sudah makan ?"
"Aku di rumah, Al. Gak ada jam kuliah untungnya. Barusan selesai makan. Kamu dimana, Sayang ? Makan siang ya ?" jawab Naya.
"Waaaa kamu hapal ya hehehe iya aku lagi makan siang sama teman-teman kantor. Yaudah kalo gitu ya aku makan dulu ya, Sayang. I love you"
Tanpa Alpha sadari, di sudut sana Naya bukannya menjawab I love you too. Naya bergumam lirih mengucapkan ia rindu Alpha yang dulu.
Alpha lebih tua 2 tahun dari Naya. Ia mengenal Alpha ketika mereka sedang di toko buku. Dari sanalah semuanya berawal. Sosok Alpha yang santun, cerdas, dan begitu meghargai sesama begitu memikat hati Naya. Dan sosok Naya yang periang dan sederhana memberi warna baru tersendiri bagi Alpha. 4 tahun mereka bersama membuat keduanya yakin, bahwa memang cinta inilah yang akan menemani mereka sampai kelak Tuhan memanggil. Atas dasar keyakinan inilah Alpha berniat suatu saat ia akan meminta Naya menjadi pedampingnya, menemaninya mengucapkan ijab kabul dan berjanji kepada Tuhan akan selalu berusaha membahagiakan Naya sebagai pendampingnya. Indah memang apa yang diimpikan Alpha saat itu. Mungkin bila Naya mengetahuinya, Naya akan berpendapat impian Alpha lebih indah dari senja yang selalu menemaninya. Lebih indah dari suara hujan yang beradu, bernyanyi untuknya. Lebih indah daripada denting hujan yang membasahi tanah lalu mengeluarkan aroma khas yang selalu disukai Naya.
5 bulan sudah hari-hari Naya tetap sama. Intensitas Alpha mengantar atau menjemputnya kuliah menjadi hal yang sangat jarang dan langka. Mereka seperti sibuk dengan dunianya sendiri atau lebih tepatnya Alpha yang lebih sibuk dengan dunianya dan Naya mencoba untuk mengacuhkan rasa gundahnya, sibuk menahan rasa rindunya untuk bersandar sejenak di pundak Alpha yang kokoh. Untuk masa ini, Naya tak lagi berharap Alpha dapat menjadi sosok lelaki yang romantis. Yang sesekali memberinya hadiah berupa sesuatu yang memang ia impikan atau berusaha memberikan kejutan di anniversary mereka atau hal manis lainnya. Kali ini yang Naya inginkan hanyalah perasaan dirindukan, dihargai dan dicintai yang pasti sangatlah luar biasa. Sayang, Naya tidak tahu bahwa sebenarnya, terlepas dari perubahan Alpha, Alpha tetaplah lelaki yang selalu berusaha berjuang keras memenuhi rancangan impiannya bersama Naya. Dan bagi Alpha, Naya selalu menjadi penghantar ia melewati hari-hari yang luar biasa.
Di suatu sore, Naya berniat ingin menghabiskan waktunya di sebuah coffee shop kecil langganannya yang berada di ujung jalan. Coffee shop yang tidak berada di pusat kota ini selalu menjadi favorit Naya. Tempat paling belakang di ujung sebelah kiri merupakan tempat favoritnya. Dari sana, ia bisa dengan leluasa melihat ke sekeliling coffee shop itu atau sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang disana. Pilihan Naya kali ini bukan duduk sembari menikmati secangkir kopi dan membaca novel atau buku kesukaannya. Ia hanya diam mendengarkan lagu-lagu di iPodnya. Sesekali ia terlihat menghembuskan napas yang berat dan memainkan cangkir kopinya. Ia memikirkan Alpha. “I deserve more than just being an option when you’re bored, or you can’t sleep or you’re stuck in a traffic jam, Alpha” batin Naya.
Sementara Alpha, tanpa diduga ia sedang menyiapkan kejutan untuk Naya. Ia sibuk mengatur playlist lagu-lagu favorit Naya dan lagu-lagu favorit mereka ke dalam CD yang rencananya akan diberikan Alpha kepada Naya saat ia akan melamar gadis yang selalu setia menjadi lullaby baginya. Untuk kali ini, Alpha memang berusaha sekali membahagiakan Naya, membuat Naya tak akan melupakan bagaimana caranya ia melamar Naya. Senyum pun terlukis di wajah Alpha.
Pagi itu hujan deras. Naya harus kuliah karena ia sedang ujian. Kedua orang-tuanya yang pergi keluar kota dan kakaknya yang sedang sakit membuat Naya harus sendiri mengendarai motornya. Naya tidak bisa menyetir dan Alpha ? Puluhan kali Naya menghubunginya tetapi nihil. Tiba-tiba Naya teringat akan taksi langganannya. Ia pun menelpon supir taksi yang selalu tanggap itu. Pergilah Naya ke kampusnya. Hujan yang begitu deras, menghalangi penglihatan sang supir. Sedari tadi, hujan ini memang berbeda bagi Naya. Entah apa tapi Naya memang merasakan firasat yang buruk. Dan…… Dugaan Naya benar. Tanpa disangka taksi yang ditumpangi Naya terhantam pohon besar yang tua yang kala itu tumbang. Naya pun meninggal saat itu juga dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Sedang sang supir koma dan terancam akan mengalami kelumpuhan total. Sungguh, hal ini terjadi di luar dugaan. Kabar ini sangat memukul hati orang-orang yang dekat dengan Naya. Mereka yang mengenal Naya pun turut merasakan sedih yang luar biasa. Dan Alpha, ia mengutuk dirinya sendiri. Ia merasa bersalah atas apa yang menimpa Naya.
Genap 40 hari sudah Naya berada di dimensi yang jauh berbeda dari Alpha. Alpha merindukan Naya. Ia begitu berat merasakan jiwanya yang kosong sepeninggalan Naya. Tak ada lagi gadis yang selalu bersemangat menyaksikan hujan. Tak ada lagi gadis yang selalu terkagum-kagum bagaimana Tuhan melukiskan bagaimana indahnya hujan sekalipun itu akan membuatnya basah kuyup. Tak ada lagi gadis yang selalu rela dan sabar menunggu Alpha. Tak ada lagi gadis yang selalu memberinya semangat dikala ia goyah. Ya. Naya memang benar-benar hilang. Fisiknya tak lagi bisa disentuh Alpha. Suaranya tak lagi mengalun indah mengucapkan namanya. Naya terekam dan tak akan pernah mati di dalam jiwa Alpha. Dimensi yang memisahkan mereka, tidak dengan hati mereka yang masih digenggam Tuhan bersamaan. Dan di kamar Naya, Alpha termangu. Duduk di sisi tempat tidur yang selalu menjadi peraduan Naya yang paling nyaman. Tepat di sudut kamar Naya, ada sekumpulan benda-benda tentang mereka berdua. Foto-foto Naya dan Alpha yang disusun rapi oleh jemari mungil Naya. Dan ternyata disana banyak foto Alpha yang diambil secara diam-diam oleh Naya. Foto ketika Alpha memilih buku, Alpha yang sedang merutuk kesal menyetir di kala macet, Alpha yang terlihat begitu ceria ketika bermain bersama keponakannya, Alpha yang terlihat serius dengan notebooknya. Barang-barang pemberian Alpha selama ini pun tersimpan rapi disana. CD Frank Sinatra yang diberikan Alpha ketika Naya berulangtahun ke-18, scrapbook yang menggambarkan bagaimana awal mula kisah mereka yang dibuat sendiri oleh Alpha untuk Naya ketika 3 tahun mereka sudah bersama. Bahkan, tulisan tangan Alpha di kertas pun masih rapi disimpan Naya. Seketika Alpha tersadar. Selama ini ia kurang memperhatikan Naya. Jarang meluangkan waktunya untuk mendengarkan Naya. Di sudut meja itu, ada satu yang menarik perhatian Alpha. Kertas berwarna marun yang terbuka. Ketika Alpha meraihnya, ternyata itu surat. Tulisan tangan Naya. Alpha membacanya dan tersentak……
Alpha,
Kecupan manismu di keningku selalu membekas dalam ingatan heningku. Sekalipun hilang tersapu debu, air, kecupan manis itu sebenarnya terpatri dalam darahku.
Kamu tau kenapa aku begitu menggilai hujan ?
Hujan mengantarmu padaku Alpha. Hujan mengirim pesan khusus untukku. Hujan berkata kamu rindu aku dan aku pun meminta kepada hujan, ‘Tolong sampaikan pada Alpha aku juga merindukannya’. Kamu selalu menerima pesanku kan ? Kalau tidak, aku pasti akan menjitak hujan, Al. Hujan selalu memelukku, Al. Disaat itu, aku merasa seperti dilindungi olehmu melalui hujan. Hujan mengajariku bersabar, hujan sekalipun selalu mendapat umpatan, ia tak pernah menyerah Al. Sesekali ia meminta pelangi muncul agar mereka yang muak akan hujan berganti menjadi kagum melihat ke langit karena ada pelangi. Begitupun aku, Al. Ketika aku hanya bersama hujan dan sunyi, setelahnya aku yakin akan ada kamu yang dengan lembut menyelipkan jarimu diantara jariku Al. Itu pelangi untukku.
Aku sampai lupa menanyakan kabarmu. Kamu pasti akan baik-baik saja kan, Al ? Aku disini baik-baik saja Al. Aku selalu bisa melihatmu kapanpun aku mau. Walau kadang aku merasa pilu karena tak lagi bisa memeluk hangat tubuhmu. Mencium aroma khasmu. Tetapi cukup dengan melihatmu, aku sudah bisa tersenyum Al.
Alpha, kamu harus tau aku sudah mempunyai firasat sebelumnya. Aku tau ada masanya aku harus merelakanmu dalam tangis diamku. Hening mencintaimu. Menulis kata rindu tanpa spasi.
Aku tau, kelak memang bukan aku yang akan mendampingimu mengucap ijab Kabul untuk menikahiku.
Kelak bukan aku yang akan menyiapkan segala keperluanmu, memasak untukmu.
Kelak bukan aku yang akan kamu kecup lembut keningnya sebagai ucapan selamat tidur.
Kelak bukan aku yang akan merasakan tertidur rebah di atas dadamu yang telanjang. Merasakan debar paling nyata dalam hidupmu.
Kelak bukan aku yang akan merasakan syahdunya sholat dan kamu yang menjadi imamku. Yang punggung tangannya akan selalu kukecup setelah kita berdoa bersama.
Kelak bukan aku yang akan protes kenapa kamu selalu lembur dan pulang larut.
Kelak bukan aku yang akan menjadi rumah bagimu.
Dan kelak, bukan aku yang akan selalu menemanimu menikmati perkembangan dunia.
Siapapun dia yang akan mendampingimu kelak, tolong sampaikan padanya bahwa dia beruntung Al, melebihi apapun di dunia. Sampaikan padanya rasa terima kasihku karena ia bisa tanpa pamrih tulus mencintaimu.
Alpha, sekarang aku tenggelam dalam pejam. Aku disini sibuk memetik bunga mimpi. Dalam haru aku merangkainya untukmu, Sayang. Maaf bila tak sempurna. Ketika di akhirat kelak kita bertemu, walau aku tak yakin kita masih bisa bersatu, bunga ini akan kuberikan untukmu. Pasti.
Detak jantungku memang sudah tak lagi beradu cepat untukmu, Al. Terhenti karena keadaan tapi tidak dengan detak waktuku yang selalu ada mengiringimu. Aku udara yang ada di sekitarmu. Ketika angin berhembus lembut, itu pertanda aku memelukmu. Ketika hujan tiba, lihatlah keluar karena aku ada disana, bermain bersama hujan. Sehabis hujan pun aku masih ada menikmati aroma khas tanah yang dibahasahi oleh hujan. Dan ketika senja, tolong pejamkan matamu ya karena aku pasti ada disana berdiri tersenyum manis padamu. Senantiasa memelukmu setiap sore berlalu. Aku akan tetap dihatimu, menjadi udara yang melekat erat tanpa mengusik kesunyian dan akan menerobos paru-parumu lalu mengisinya dengan semangat kehidupan yang baru.
Alpha,
Aku ada mengenggam tanganmu. Aku adalah sisimu ketika kamu menyebrang jalan. Ketika kamu jatuh, aku pasti akan membantumu berjalan kembali.
Aku ada menjadi pijar yang tak akan menyilaukan matamu,
Aku ada menjadi gelap yang tak akan menakutimu.
Aku pasti ada diantaranya, Sayang.
Lidahku kini beku. Tak mungkin lagi membisikkan rinduku padamu. Tak mungkin lagi mengecup pipimu lalu berkata ‘aku sayang kamu’. Tetapi, Tuhan pasti akan menyampaikan semua rasaku padamu. Hujan dan senja yang kini bersahabat padaku pasti mau menyampaikan semuanya.
Maafkan aku dengan segala kekuranganku ya.
Terima kasih sudah mau bersabar selama ini menemaniku.
Terima kasih kamu tak pernah merasa lelah mencintaiku.
Berjanjilah padaku kelak kamu bisa menerima semuanya dan membuka hatimu untuk dia siapapun itu.
Aku menunggu dan memperhatikanmu dari sini ya, Sayang. Dalam damai.
Sepi yang menemani Alpha terisak. Entah bagaimana dadanya terasa lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Ia merasa kalah oleh takdir. Sekalipun sakit, Alpha tersenyum. Karena Alpha tau Naya pasti melihatnya. Dan senyum itu, memang untuk Naya.