Oke. Masih bingung sebenernya mau nulis mulai darimana. Gimana kalo dengan permulaan "I'm single now." Suprise, no ? :) Iya. Akhirnya saya memilih untuk menyerah. Saya pikir saya bisa cukup kuat cukup tangguh buat menghadapi dia. Tapi ternyata, iya saya memang lemah. Saya memang rapuh. Saya memang egois. Memilih untuk mengakhiri semua yg sudah membuat hati saya luka. Hati, bahkan otak rasanya sudah lelah. Saya lemah, sama sekali gak kuat menghadapi dia yg masih suka seenaknya. Saya pikir, dia sudah pantas disebut sebagai pria karena awalnya saya kira dia sudah bisa konsisten dengan ucapannya, sudah bisa menyadari mana yg seharusnya dia lakukan dan mana yg seharusnya lebih baik tidak dia lakukan. Ternyata saya salah. Ya, sebagai pacarnya (waktu itu) memang sudah jadi kewajiban saya menemaninya, menegurnya bila ternyata ia salah. Sudah, semua sudah saya lakukan. Dan ternyata, memang tidak pernah ada gunanya. Entah mungkin saya yg meaningless di matanya. Awalnya, dia yg memang secara tiba-tiba mengakhiri semua. Dan ternyata secara tiba-tiba pula ia kembali, menawarkan diri untuk menemani saya lagi. Saya memang masih punya cinta yg sama untuknya. Tidak pernah berkurang sedikitpun. Sayangnya, hati saya berkata tidak. Saya belum siap terluka lagi. Saya belum siap menghadapi dia dengan segala kelakuannya. Dia dengan segala ritme hidupnya yg masih suka sembrono.
Bukannya saya mau sok dewasa. Bukannya saya gak mau santai menjalani hidup. Oke, kita memang masih muda. Tapi bukannya kita ingin menjadi manusia yg seperti apa yg bagaimana dimulai dari sekarang ? Bayangan masa depan saya memang cuma dia. Jelas saya ingin menikah dengannya kelak. Tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan bahwa ia harus menjadi seorang yg kaya raya agar bisa mendampingi saya. Tidak. Sosok yg saya inginkan hanyalah dia, yg bisa bertanggung jawab akan hidupnya sendiri sehingga saya pun dapat bertumpu padanya. Tapi ternyata, ia salah tanggap. Biarlah dia dengan segala pikiran sempitnya. Biarlah ia dengan segala macam maunya. Saya cuma berharap satu hal, dia bisa bahagia kelak, Apapun pilihan hidupnya kelak. Siapapun perempuan beruntung yg akan menikah dengannya kelak.
"Kamu masih muda, masih banyak yg bakal datang dan pergi di dalam hidup kamu." Itu yg paling saya ingat. Memang sudah ada beberapa yg mendekati saya. I feel strange. Karena memang mereka benar-benar orang yg asing dalam hidup saya.
Pertama, temen kampus saya sendiri. Oke, pyhsically memang dia tipikal saya. Tapi sayangnya, dia jelas sangat kekanak-kanakan. Dan dia berbohong, hanya supaya saya bisa bersimpati padanya. Dan ada beberapa pekerja kantoran. Pegawai bank dan pegawai notaris. Seems like so perfect, right ? :) Engga buat saya. Siapapun dia, bagaimanapun orangnya ternyata susah untuk saya membuka hati, ,membuka diri. Seharusnya mengenali sesuatu yg baru bisa jadi sesuatu yg menyenangkan kan ? Tidak buat saya. Saya memang pengecut. Gak berani mengambil resiko.
Pernah suatu waktu, kak Rima BBm saya. "Yauda sih balikan aja daripada galau terus. Sama-sama kangen ini." Well, seems so easy. Gak semudah itu. Memang, hati saya masih terpatri dengan jelas akan namanya. Tapi tidak. Saya benar-benar belum siap.Mungkin kelak, ketika dia bersedia datang kembali, ketika dia sudah bisa berubah, saya pasti akan menerimanya :)
Kelak, jika ada masanya seseorang yg hadir di waktu yg tepat, yg bisa membuat saya lupa bagaimana dia di masa lalu pernah menghancurkan hati saya dengan kerasnya mungkin saya bisa menerimanya. Apa yg akan terjadi kedepannya, masih jadi rahasia Tuhan. Mungkin kelak, dia bisa melupakan saya. Dia bisa mencintai seseorang yg jauh lebih baik dari saya. Dan saya tau, saya pun berhak mencintai siapa saja. Saya pun berhak untuk menikah dengan siapa saja.
Sekarang yg saya perlu lakukan hanya menata hati, mecoba menyusun kepingan yg sudah tercecer. Ketika dia sudah bisa melupakan saya, doakan saya ya agar saya bisa pelan-pelan tidak menutup hati dan diri lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar